This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 24 Juni 2016

Biografi Buya Hamka

Anda mungkin pernah mengdengar atau bahkan menonton sebuah film yang berjudul "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk" yang diangkat berdasarkan novel yang ditulis oleh seorang sastrawan terkenal yag bernama Buya Hamka yang lahir pada tahun 1908 di desa kampung Molek, Meninjau, Sumatera Barat, HAMKA sendiri merupakan singkatan dari nama beliau yakni Haji Abdul Malik Karim Amrullah, Hamka merupakan putra dari Syekh Abdul Karim bin Amrullah, yg juga merupakan ulama di tanah minang, diawali bekerja sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan dan guru agama di Padang Panjang pada tahun 1929. Hamka kemudian dilantik sebagai dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padang Panjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958.

Profil Kehidupan Buya Hamka
Setelah itu, beliau diangkat menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta. Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia, tetapi meletakkan jabatan itu ketika Sukarno menyuruhnya memilih antara menjadi pegawai negeri atau bergiat dalam politik Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Buya Hamka merupakan sosok otodidak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat.

Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti, dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman, beliau juga rajin membaca dan bertukar-tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Soerjopranoto, Haji Fachrudin, AR Sutan Mansur, dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang andal.
buya hamka, biografi, sastrawan
Buya Hamka
Hamka aktif dalam Muhammadiyah, terpilih menjadi ketua Majlis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah, menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Pada tahun 1953, Hamka dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiah. Pada 26 Juli 1977, Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. Mukti Ali melantik Hamka sebagai ketua umum Majelis Ulama Indonesia tetapi beliau kemudiannya mengundurkan diri pada tahun 1981 karena nasihatnya tidak dipedulikan oleh pemerintah Indonesia.
buya hamka, biografi, sastrawan
Buya Hamka
Pekerjaan Buya Hamka
beliau juga wartawan, penulis, editor, dan penerbit. Sejak tahun 1920-an, Hamka menjadi wartawan beberapa buah surat kabar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam, dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makassar. Hamka juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, dan Gema Islam. Hamka juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar dan antara novel-novelnya yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura termasuklah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka'bah, dan Merantau ke Deli.

karya- karya buya HAMKA
  • Khatibul Ummah, Jilid 1-3. Ditulis dalam huruf Arab.
  • Si Sabariah. (1928)
  • Pembela Islam (Tarikh Saidina Abu Bakar Shiddiq),1929.
  • Adat Minangkabau dan agama Islam (1929).
  • Ringkasan tarikh Ummat Islam (1929).
  • Kepentingan melakukan tabligh (1929).
  • Hikmat Isra' dan Mikraj.
  • Arkanul Islam (1932) di Makassar.
  • Laila Majnun (1932) Balai Pustaka.
  • Majallah 'Tentera' (4 nomor) 1932, di Makassar.
  • Majallah Al-Mahdi (9 nomor) 1932 di Makassar.
  • Mati mengandung malu (Salinan Al-Manfaluthi) 1934.
  • Di Bawah Lindungan Ka'bah (1936) Pedoman Masyarakat,Balai Pustaka.
  • Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1937), Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.
  • Di Dalam Lembah Kehidupan 1939, Pedoman Masyarakat, Balai Pustaka.
  • Merantau ke Deli (1940), Pedoman Masyarakat, Toko Buku Syarkawi.
  • Margaretta Gauthier (terjemahan) 1940.
  • Tuan Direktur 1939.
  • Dijemput mamaknya,1939.
  • Keadilan Ilahy 1939.
  • Tashawwuf Modern 1939.
  • Falsafah Hidup 1939.
  • Lembaga Hidup 1940.
  • Lembaga Budi 1940.
  • Majallah 'SEMANGAT ISLAM' (Zaman Jepang 1943).
  • Majallah 'MENARA' (Terbit di Padang Panjang), sesudah revolusi 1946.
  • Negara Islam (1946).
  • Islam dan Demokrasi,1946.
  • Revolusi Pikiran,1946.
  • Revolusi Agama,1946.
  • Adat Minangkabau menghadapi Revolusi,1946.
  • Dibantingkan ombak masyarakat,1946.
  • Didalam Lembah cita-cita,1946.
  • Sesudah naskah Renville,1947.
  • Pidato Pembelaan Peristiwa Tiga Maret,1947.
  • Menunggu Beduk berbunyi,1949 di Bukittinggi,Sedang Konperansi Meja Bundar.
  • Ayahku,1950 di Jakarta.
  • Mandi Cahaya di Tanah Suci. 1950.
  • Mengembara Dilembah Nyl. 1950.
  • Ditepi Sungai Dajlah. 1950.
  • Kenangan-kenangan hidup 1,autobiografi sejak lahir 1908 sampai pd tahun 1950.
  • Kenangan-kenangan hidup 2.
  • Kenangan-kenangan hidup 3.
  • Kenangan-kenangan hidup 4.
  • Sejarah Ummat Islam Jilid 1,ditulis tahun 1938 diangsur sampai 1950.
  • Sejarah Ummat Islam Jilid 2.
  • Sejarah Ummat Islam Jilid 3.
  • Sejarah Ummat Islam Jilid 4.
  • Pedoman Mubaligh Islam,Cetakan 1 1937 ; Cetakan ke 2 tahun 1950.
  • Pribadi,1950.
  • Agama dan perempuan,1939.
  • Muhammadiyah melalui 3 zaman,1946,di Padang Panjang.
  • 1001 Soal Hidup (Kumpulan karangan dr Pedoman Masyarakat, dibukukan 1950).
  • Pelajaran Agama Islam,1956.
  • Perkembangan Tashawwuf dr abad ke abad,1952.
  • Empat bulan di Amerika,1953 Jilid 1.
  • Empat bulan di Amerika Jilid 2.
  • Pengaruh ajaran Muhammad Abduh di Indonesia (Pidato di Kairo 1958), utk Doktor Honoris Causa.
  • Soal jawab 1960, disalin dari karangan-karangan Majalah GEMA ISLAM.
  • Dari Perbendaharaan Lama, 1963 dicetak oleh M. Arbie, Medan; dan 1982 oleh Pustaka Panjimas, Jakarta.
  • Lembaga Hikmat,1953 oleh Bulan Bintang, Jakarta.
  • Islam dan Kebatinan,1972; Bulan Bintang.
  • Fakta dan Khayal Tuanku Rao, 1970.
  • Sayid Jamaluddin Al-Afhany 1965, Bulan Bintang.
  • Ekspansi Ideologi (Alghazwul Fikri), 1963, Bulan Bintang.
  • Hak Asasi Manusia dipandang dari segi Islam 1968.
  • Falsafah Ideologi Islam 1950(sekembali dr Mekkah).
  • Keadilan Sosial dalam Islam 1950 (sekembali dr Mekkah).
  • Cita-cita kenegaraan dalam ajaran Islam (Kuliah umum) di Universiti Keristan 1970.
  • Studi Islam 1973, diterbitkan oleh Panji Masyarakat.
  • Himpunan Khutbah-khutbah.
  • Urat Tunggang Pancasila.
  • Doa-doa Rasulullah S.A.W,1974.
  • Sejarah Islam di Sumatera.
  • Bohong di Dunia.
  • Muhammadiyah di Minangkabau 1975,(Menyambut Kongres Muhammadiyah di Padang).
  • Pandangan Hidup Muslim,1960.
  • Kedudukan perempuan dalam Islam,1973.

Biografi Tan Malaka

Tokoh satu ini sangat terkenal dengan pemikiran pemikirannya yang revolusioner dan berhaluan kiri, Tan Malaka atau Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka yang lahir di Nagari Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat tanggal 2 Juni 1897, ia wafat di Jawa Timur, 21 Februari 1949. Beliau adalah seorang aktivis pejuang nasionalis Indonesia, seorang pemimpin komunis, dan politisi yang mendirikan Partai Murba. Pejuang yang militan, radikal dan revolusioner ini banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang berbobot dan berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dengan perjuangan yang gigih maka ia dikenal sebagai tokoh revolusioner yang legendaris namun pemerintah ketika itu menganggap dirinya sebagai pemberontak dan harus dilenyapkan.

Biografi Tan Malaka
Dia kukuh mengkritik terhadap pemerintah kolonial Hindia-Belanda maupun pemerintahan republik di bawah Soekarno pasca-revolusi kemerdekaan Indonesia. Walaupun berpandangan komunis, ia juga sering terlibat konflik dengan kepemimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Tan Malaka menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam pembuangan di luar Indonesia, dan secara tak henti-hentinya terancam dengan penahanan oleh penguasa Belanda dan sekutu-sekutu mereka. Walaupun secara jelas disingkirkan, Tan Malaka dapat memainkan peran intelektual penting dalam membangun jaringan gerakan komunis internasional untuk gerakan anti penjajahan di Asia Tenggara. Ia dinyatakan sebagai "Pahlawan revolusi nasional" melalui ketetapan parlemen dalam sebuah undang-undang tahun 1963.
    Perjuangan Tan Malaka
    Tan Malaka juga seorang pendiri partai Murba, berasal dari Sarekat Islam (SI) Jakarta dan Semarang. Ia dibesarkan dalam suasana semangatnya gerakan modernis Islam Kaoem Moeda di Sumatera Barat.

    Tokoh ini diduga kuat sebagai orang di belakang peristiwa penculikan Sutan Sjahrir bulan Juni 1946 oleh "sekelompok orang tak dikenal" di Surakarta sebagai akibat perbedaan pandangan perjuangan dalam menghadapi Belanda.

    Pada tahun 1921 Tan Malaka telah terjun ke dalam gelanggang politik. Dengan semangat yang berkobar dari sebuah gubuk miskin, Tan Malaka banyak mengumpulkan pemuda-pemuda komunis. Pemuda cerdas ini banyak juga berdiskusi dengan Semaun (wakil ISDV) mengenai pergerakan revolusioner dalam pemerintahan Hindia Belanda. Selain itu juga merencanakan suatu pengorganisasian dalam bentuk pendidikan bagi anggota-anggota PKI dan SI (Sarekat Islam) untuk menyusun suatu sistem tentang kursus-kursus kader serta ajaran-ajaran komunis, gerakan-gerakan aksi komunis, keahlian berbicara, jurnalistik dan keahlian memimpin rakyat. Namun pemerintahan Belanda melarang pembentukan kursus-kursus semacam itu sehingga mengambil tindakan tegas bagi pesertanya.

    Melihat hal itu Tan Malaka mempunyai niat untuk mendirikan sekolah-sekolah sebagai anak-anak anggota SI untuk penciptaan kader-kader baru. Juga dengan alasan pertama: memberi banyak jalan (kepada para murid) untuk mendapatkan mata pencaharian di dunia kapitalis (berhitung, menulis, membaca, ilmu bumi, bahasa Belanda, Melayu, Jawa dan lain-lain); kedua, memberikan kebebasan kepada murid untuk mengikuti kegemaran mereka dalam bentuk perkumpulan-perkumpulan; ketiga, untuk memperbaiki nasib kaum miskin. Untuk mendirikan sekolah itu, ruang rapat SI Semarang diubah menjadi sekolah. Dan sekolah itu bertumbuh sangat cepat hingga sekolah itu semakin lama semakin besar.

    Perjuangan Tan Malaka tidaklah hanya sebatas pada usaha mencerdaskan rakyat Indonesia pada saat itu, tapi juga pada gerakan-gerakan dalam melawan ketidakadilan seperti yang dilakukan para buruh terhadap pemerintahan Hindia Belanda lewat VSTP dan aksi-aksi pemogokan, disertai selebaran-selebaran sebagai alat propaganda yang ditujukan kepada rakyat agar rakyat dapat melihat adanya ketidakadilan yang diterima oleh kaum buruh.

    Seperti dikatakan Tan Malaka pada pidatonya di depan para buruh “Semua gerakan buruh untuk mengeluarkan suatu pemogokan umum sebagai pernyataan simpati, apabila nanti menglami kegagalan maka pegawai yang akan diberhentikan akan didorongnya untuk berjuang dengan gigih dalam pergerakan revolusioner”.

    Pergulatan Tan Malaka dengan partai komunis di dunia sangatlah jelas. Ia tidak hanya mempunyai hak untuk memberi usul-usul dan dan mengadakan kritik tetapi juga hak untuk mengucapkan vetonya atas aksi-aksi yang dilakukan partai komunis di daerah kerjanya. Tan Malaka juga harus mengadakan pengawasan supaya anggaran dasar, program dan taktik dari Komintern (Komunis Internasional) dan Profintern seperti yang telah ditentukan di kongres-kongres Moskwa diikuti oleh kaum komunis dunia. Dengan demikian tanggung-jawabnya sebagai wakil Komintern lebih berat dari keanggotaannya di PKI.

    Sebagai seorang pemimpin yang masih sangat muda ia meletakkan tanggung jawab yang sangat berat pada pundaknya. Tan Malaka dan sebagian kawan-kawannya memisahkan diri dan kemudian memutuskan hubungan dengan PKI, Sardjono-Alimin-Musso.

    Pemberontakan 1926 yang direkayasa dari Keputusan Prambanan yang berakibat bunuh diri bagi perjuangan nasional rakyat Indonesia melawan penjajah waktu itu. Pemberontakan 1926 hanya merupakan gejolak kerusuhan dan keributan kecil di beberapa daerah di Indonesia. Maka dengan mudah dalam waktu singkat pihak penjajah Belanda dapat mengakhirinya. Akibatnya ribuan pejuang politik ditangkap dan ditahan. Ada yang disiksa, ada yang dibunuh dan banyak yang dibuang ke Boven Digoel, Irian Jaya. Peristiwa ini dijadikan dalih oleh Belanda untuk menangkap, menahan dan membuang setiap orang yang melawan mereka, sekalipun bukan PKI. Maka perjaungan nasional mendapat pukulan yang sangat berat dan mengalami kemunduran besar serta lumpuh selama bertahun-tahun.

    Tan Malaka yang berada di luar negeri pada waktu itu, berkumpul dengan beberapa temannya di Bangkok. Di ibu kota Thailand itu, bersama Soebakat dan Djamaludddin Tamin, Juni 1927 Tan Malaka memproklamasikan berdirinya Partai Republik Indonesia (PARI). Dua tahun sebelumnya Tan Malaka telah menulis "Menuju Republik Indonesia". Itu ditunjukkan kepada para pejuang intelektual di Indonesia dan di negeri Belanda. Terbitnya buku itu pertama kali di Kowloon, Hong Kong, April 1925.

    Prof. Mohammad Yamin, dalam karya tulisnya "Tan Malaka Bapak Republik Indonesia" memberi komentar:
     Tak ubahnya daripada Jefferson Washington merancangkan Republik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai atau Rizal Bonifacio meramalkan Philippina sebelum revolusi Philippina pecah…."
    Peristiwa 3 Juli 1946 yang didahului dengan penangkapan dan penahanan Tan Malaka bersama pimpinan Persatuan Perjuangan, di dalam penjara tanpa pernah diadili selama dua setengah tahun. Setelah meletus pemberontakan FDR/PKI di Madiun, September 1948 dengan pimpinan Musso dan Amir Syarifuddin, Tan Malaka dikeluarkan begitu saja dari penjara akibat peristiwa itu.

    Di luar, setelah mengevaluasi situasi yang amat parah bagi Republik Indonesia akibat Perjanjian Linggajati 1947 dan Renville 1948, yang merupakan buah dari hasil diplomasi Sutan Syahrir dan Perdana Menteri Amir Syarifuddin, Tan Malaka merintis pembentukan Partai MURBA, 7 November 1948 di Yogyakarta.

    Pada tahun 1949 tepatnya bulan Februari Tan Malaka hilang tak tentu rimbanya, mati tak tentu kuburnya di tengah-tengah perjuangan bersama Gerilya Pembela Proklamasi di Pethok, Kediri, Jawa Timur. Tapi akhirnya misteri tersebut terungkap juga dari penuturan Harry A. Poeze, seorang Sejarawan Belanda yang menyebutkan bahwa Tan Malaka ditembak mati pada tanggal 21 Februari 1949 atas perintah Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya[1].

    Direktur Penerbitan Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara atau KITLV, Harry A Poeze kembali merilis hasil penelitiannya, bahwa Tan Malaka ditembak pasukan TNI di lereng Gunung Wilis, tepatnya di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri pada 21 Februari 1949. Namun berdasarkan keputusan Presiden RI No. 53, yang ditandatangani Presiden Soekarno 28 Maret 1963 menetapkan bahwa Tan Malaka adalah seorang pahlawan kemerdekaan Nasional.

    Harry Poeze telah menemukan lokasi tewasnya Tan Malaka di Jawa Timur berdasarkan serangkaian wawancara yang dilakukan pada periode 1986 sampai dengan 2005 dengan para pelaku sejarah yang berada bersama-sama dengan Tan Malaka tahun 1949. Dengan dukungan dari keluarga dan lembaga pendukung Tan Malaka, sedang dijajaki kerja sama dengan Departemen Sosial Republik Indonesia untuk memindahkan kuburannya ke Taman Makam Pahlawan Kalibata. Tentu untuk ini perlu tes DNA, misalnya. Tetapi, Depsos dan Pemerintah Provinsi Jatim harus segera melakukannya sebelum masyarakat setempat secara sporadis menggali dan mungkin menemukan tulang belulang kambing yang bisa diklaim sebagai kerangka jenazah sang pahlawan nasional.

    Tidak kurang dari 500 kilometer jarak ditempuh ribuan orang selama dua bulan dari Madiun ke arah Pacitan, lalu ke Utara, sebelum akhirnya mereka, antara lain Amir Sjarifuddin, ditangkap di wilayah perbatasan yang dikuasai tentara Belanda. Ia juga menemukan arsip menarik tentang Soeharto. Selama ini sudah diketahui bahwa Soeharto datang ke Madiun sebelum meletus pemberontakan. Soemarsono berpesan kepadanya bahwa kota itu aman dan agar pesan itu disampaikan kepada pemerintah. Poeze menemukan sebuah arsip menarik di Arsip Nasional RI bahwa Soeharto pernah menulis kepada ”Paduka Tuan” Kolonel Djokosoejono, komandan tentara kiri, agar beliau datang ke Yogya dan menyelesaikan persoalan ini. Soeharto menulis ”saya menjamin keselamatan Pak Djoko”. Dokumen ini menarik karena ternyata Soeharto mengambil inisiatif sendiri sebagai penengah dalam peristiwa Madiun. Harry Poeze telah menemukan lokasi tewasnya Tan Malaka di Jawa Timur. Lokasi tempat Tan Malaka disergap dan kemudian ditembak adalah Dusun Tunggul, Desa Selopanggung, di kaki Gunung Wilis.

    Riwayat Tan Malaka
    • Saat berumur 16 tahun, 1912, Tan Malaka dikirim ke Belanda.
    • Tahun 1919 ia kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai guru disebuah perkebunan di Deli. Ketimpangan sosial yang dilihatnya di lingkungan perkebunan, antara kaum buruh dan tuan tanah menimbulkan semangat radikal pada diri Tan Malaka muda.
    • Tahun 1921, ia pergi ke Semarang dan bertemu dengan Semaun dan mulai terjun ke kancah politik
    • Saat kongres PKI 24-25 Desember 1921, Tan Malaka diangkat sebagai pimpinan partai.
    • Januari 1922 ia ditangkap dan dibuang ke Kupang.
    • Pada Maret 1922 Tan Malaka diusir dari Indonesia dan mengembara ke Berlin, Moskwa dan Belanda.
    Madilog karya Tan Malaka
    Madilog merupakan istilah baru dalam cara berpikir, dengan menghubungkan ilmu bukti serta mengembangkan dengan jalan dan metode yang sesuai dengan akar dan urat kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan dunia. Bukti adalah fakta dan fakta adalah lantainya ilmu bukti. Bagi filsafat, idealisme yang pokok dan pertama adalah budi (mind), kesatuan, pikiran dan penginderaan. Filsafat materialisme menganggap alam, benda dan realita nyata obyektif sekeliling sebagai yang ada, yang pokok dan yang pertama.

    Bagi Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) yang pokok dan pertama adalah bukti, walau belum dapat diterangkan secara rasional dan logika tapi jika fakta sebagai landasan ilmu bukti itu ada secara konkrit, sekalipun ilmu pengetahuan secara rasional belum dapat menjelaskannya dan belum dapat menjawab apa, mengapa dan bagaimana.

    Semua karya Tan Malaka dan permasalahannya didasari oleh kondisi Indonesia. Terutama rakyat Indonesia, situasi dan kondisi nusantara serta kebudayaan, sejarah lalu diakhiri dengan bagaimana mengarahkan pemecahan masalahnya. Cara tradisi nyata bangsa Indonesia dengan latar belakang sejarahnya bukanlah cara berpikir yang teoritis dan untuk mencapai Republik Indonesia sudah dia cetuskan sejak tahun 1925 lewat Naar de Republiek Indonesia.

    Jika membaca karya-karya Tan Malaka yang meliputi semua bidang kemasyarakatan, kenegaraan, politik, ekonomi, sosial, kebudayaan sampai kemiliteran (Gerpolek-Gerilya-Politik dan Ekonomi, 1948), maka akan ditemukan benang putih keilmiahan dan ke-Indonesia-an serta benang merah kemandirian, sikap konsisten yang jelas dalam gagasan-gagasan serta perjuangannya.

    Biografi Sutan Sjahrir

    Nama tokoh satu ini tidak dapat dilepaskan dari sejarah proses berdirinya Republik Indonesia. Sutan Syahrir dikenal sebagai seorang pemikir dan juga perintis berdirinya Republik Indonesia. Ia dikenal dengan julukan 'Si Kancil' dan juga 'The Smiling Diplomat.' Beliau dikenal sebagai perdana menteri pertama Indonesia ketika Republik Indonesia merdeka pada tahun 1945. Berkat jasa-jasanya pula, pemerintah Indonesia memberikan tanda kepada Sutan Syahrir sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

    Mengenai biografi, profil dari Sutan Syahrir sendiri, beliau lahir pada tanggal 5 maret 1909 di kota padang panjang, Sumatera Barat. Ia mempunyai saudara perempuan bernama Rohana Kudus. Ayahnya bernama Mohammad Rasad gelar Maharaja Soetan bin Soetan Leman gelar Soetan Palindih dan ibunya bernama Puti Siti Rabiah yang berasal dari Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat.

    Orang tua Sutan Syahrir merupakan orang yang terpandang di Sumatera. Ayahnya menjabat sebagai penasihat Sultan Deli dannjuga kepala jaksa atau landraad pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Karena lahir di keluarga yang kondisi ekonominya berkecukupan, Sutan Syahrir masuk di sekolah terbaik pada zaman kolonal Belanda ketika itu. Ia memulai pendidikannya di ELS (Europeesche Lagere School) atau setingkat sekolah dasar.

    Setelah menyelesaikan pendidikan di ELS, ia kemudian masuk di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) yang setingkat dengan sekolah menengah pertama atau SMP. Disini ia kemudian banyak membaca buku-buku asing terbitan eropa dan juga karya-karya sastra dari luar. Tamat dari MULO pada tahun 1926, ia kemudian pindah ke Bandung dan bersekolah di AMS (Algemeene Middelbare School) yang merupakan sekolah termahal dan terbaik di Bandung. 

    Mulai Terjun ke Dunia Organisasi
    Di AMS, ia menjadi siswa terbaik disana, Sutan Syahrir banyak menghabiskan waktunya dengan membaca buku-buku terbitan Eropa dan juga mengikuti klub kesenian di sekolahnya. Ia juga aktif dalam klub debat di AMS. Selain itu, ia juga mendirikan sekolah bernama Tjahja Volksuniversiteit (Cahaya Universitas Rakyat) yang ditujukan untuk anak-anak buta huruf dan dari keluarga yang kurang mampu.

    Pengalamannya dalam berorganisasi di sekolah membawanya terjun kedalam dunia politik ketika itu. Sutan Syahrir kemudian dikenal sebagai penggagas dalam berdirinya Jong Indonesië (himpunan pemuda nasionalis) pada tanggal 20 februari 1927 yang kemudian mengubah nama menjadi Pemuda Indonesia. Pemuda Indonesia kemudian menjadi penggerak dimulainya Kongres Pemuda Indonesia yang kemudian melahirkan Sumpah Pemuda pada tanggal 1928. 

    Sebagai seorang pelajar ketika itu, Sutan Syahrir kerap dikejar-kejar oleh polisi Belanda di Bandung karena sering membaca berita mengenai pemberontakan PKI pada tahun 1926 yang ketika itu terlarang untuk dibaca bagi pelajar sekolah. Sutan Syajrir juga merupakan pemimpin redaksi dari Himpunan Pemuda Nasional yang kerap berurusan dengan kepolisian Bandung kerena kerap mengkritik pemerintahan kolonial ketika itu.

    Kuliah di Belanda dan Menjadi Aktivis Sosialis
    Tamat dari AMS, ia kemudian berangkat ke Belanda dan melanjutkan kuliahnya disana. Ia kemudian masuk fakultas hukum di Universitas Amsterdam, di Belanda. Disana, Sutan Syahrir banyak mempelajari teori-teori sosialisme hingga kemudian ia dikenal sebagai seorang sosialis yang cenderung ke 'kiri' dan bersikap radikal terhadap hal-hal yang berbau kapitalisme. Di Belanda, beliau bekerja di Sekretariat Federasi Buruh Transportasi Internasional.

    Disana juga ia kemudian berkenal dengan Salomon Tas yang merupakan Ketua Klub Mahasiswa Sosial Demokrat, dan juga wanita bernama Maria Duchateau yang kelak menjadi istrinya yang ia nikahi pada tahun 1932. Di Belanda juga, Sutan Syahrir bergabung dalam Perhimpunan Indonesia (PI) yang dipimpin oleh Mohammad Hatta

    Khawatir akan pergerakan organisasi pergerakan pemuda Indonesia, kemudian pemerintah Belanda dengan ketat mengawasi bahkan melakukan aksi razia seperti memenjarakan para pemimpin pergerakan seperti Ir. Soekarno hingga kemudian PNI (Partai Nasional Indonesia) oleh aktivis PNI sendiri. Bersama dengan Mohammad Hatta, Sutan Syahrir selalu menyerukan untuk melakukan pergerakan menuju kemerdekaan Indonesia. Mereka menuangkan tulisan mereka melalui majalah Daulat Rakjat yang dimiliki oleh Pendidikan Nasional Indonesia.
     "Pertama-tama, marilah kita mendidik, yaitu memetakan jalan menuju kemerdekaan." - Sutan Syahrir.
    Melihat menurunnya semangat pergerakan di Indonesia akibat pengawasan pemerintah kolonial Belanda yang ketat membuat Sutan Syahrir pada 1931 memilih berhenti kuliah dan kemudian kembali ke Indonesia untuk melanjutkan pergerakan nasional menuju kemerdekaan Indonesia.

    Pengalamannya dalam berorganisasi ketika masih menjadi pelajar dan juga ketika kuliah di Belanda membuat ia segera bergabung dengan Partai Nasional Indonesia (PNI Baru) yang diketuainya pada tahn 1932. Sebagai tokoh yang memiliki pandangan sosialis, Sutan Syahrir juga ikut tergabung dalam pergerakan buruh. Tulisan-tulisan Syahrir tentang perburuhan kia tuangkan dalam majalan Daulat Rakjat dan sering berbicara mengenai buruh di forum-frum politik sehingga membuat Sutan Syahrir di daulat sebagai ketua Kongres Kaum Buruh Indonesia.

    Memimpin Partai PNI Baru Bersama Bung Hatta
    Kembalinya Hatta ke Indonesia setelah dari Belanda dan memimpin Partai PNI Baru bersama Sutan Syahrir membuat PNI Baru ini cenderung lebih radikal dibanding PNI ketika masih dibawah kepemimpinan Soekarno. Hal ini kemudian membuat pemerintah kolonial Belanda lebih mengawasi secara ketat aktifitas PNI baru ini yang diketuai oleh Syahrir dan Mohammad Hatta.

    Pergerakan PNI Baru dibawah komando Hatta dan Sutan Syahrir yang cenderung semakin radikal dengan mobilisasi massa besar-besaran membuat Sutan Syahrir dan Mohammad Hatta akhir ditangkap oleh pemerintah kolonial Belanda dan dipenjarakan, kemudian mereka berdua diasingkan di Boven-Digoel dan kemudian dibuang selama enam tahun di Banda Neira di Kepulauan Banda.

    Biografi Sutan Syahrir - Pahlawan Nasional Indonesia
    Pada masa kependudukan Jepang, Sutan Syahrir pergerakan 'bawah tanah' membangun jaringan untuk mempersiapkan diri merebut kemerdekaan tanpa bekerja sama dengan Jepang seperti yang dilakukan oleh Ir. Soekarno. Syahrir percaya bahwa kependudukan Jepang sudah tidak lama lagi dan Jepang tak mungkin menang dalam perang melawan sekutu sehingga Indonesia harus cepat merebut kemerdekaan dari tangan Jepang.

    Sutan Syahrir kemudian mendesak Soekarno dan Mohammad Hatta untuk mendeklarasikan kemerdekaaan Indonesia pada tangga 15 Agustus 1945, desakan itu juga didukung oleh para pemuda ketika itu. Namun  Soekarno dan Hatta menolak dan tetap sesuai dengan rencana yakni tanggal 24 september 1945 yang ditetapkan oleh PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang dibentuk oleh jepang.

    Hal tersebut kemudian mengundang kekecewaan dari para pemuda Indonesia terlebih lagi jepang diketahui telah menyerah dan kalah perang oleh sekutu. Hal inilah yang kemudian membuat kaum muda ketika itu menculik Soekarno dan Mohammad Hatta dan membawanya ke Rengasdengklok pada tanggal 16 Agustus 1945 guna menjauhkan dari pengaruh Jepang dan mendesak agar segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

    Menjadi Perdana Menteri Pertama Republik Indonesia
    Akhirnya pada tanggal 17 agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Pasca kemerdekaan Indonesia, Sutan Syahrir kemudian ditunjuk oleh Presiden Soekarno sebagai Perdana Menteri pertama Republik Indonesia dan menjadi perdana menteri termuda di dunia yakni berusia 36 tahun, beliau juga menjabat sebagai Menteri Luar Negerin dan Menteri Dalam Negeri ketika Republik Indonesia baru saja merdeka, meskipun begitu banyak tulisan-tulisan Sutan Syahrir yang cenderung mengkritik dan menyerang Soekarno. Tulisannya yang terkenal yaitu Perjuangan Kita.

    Pasca kemerdekaan Indonesia, terjadi peristiwa penculikan perdana menteri Sutan Syahrir pada tanggal 26 juni 1946 yang dilakukan oleh kaum Persatuan Perjuangan yang merasa kecewa atas diplomasi yang dilakukan oleh Sutan Syahrir dibawah kabinetnya yaitu Syahrir II kepada pemerintah Belanda ketika itu yang ingin kembali menguasai Indonesia. Diplomasi Kabinet Syahrir hanya menuntut pengakuan wilayah Jawa dan Madura sebagai wilayah Indonesia, namun kaum Persatuan Perjuangan menginginkan kemerdekaan Indonesia sepeuhnya mencakup seluruh wilayah Nusantara seperti yang dicetuskan oleh Tan Malaka.

    Penculikan Sutan Syahrir
    Kaum Persatuan Perjuangan yang menculik Sutan Syahrir ini dipimpin oleh Mayor Jendral Soedarsono dan termasuk Tan Malaka didalamnya. Ada juga yang mengatakan bahwa Jenderal Besar Sudirmanikut terlibat dalam penculikan Sutan Syahrir. Penculikan Sutan Syahrir ini kemudian membuat Presiden Soekarno ketika itu marah besar. Pada tanggal 1 juli 1946, 14 pimpinan yang melakukan penculikan yang didalamnya termasuk Tan Malaka berhasil ditangkap dan kemudian dipenjarakan oleh polisi Surakarta di penjara Wirogunan.

    Tanggal 2 juli 1946, Mayor Jendral Soedarsono kemudian menyerbu penjara tersebut dan kemudian berhasiil membebaskan pimpinan dari aksi penculikan Sutan Syahrir. Hingga kemudian Presiden Soekarno akhirnya kemudian memerintahkan Soeharto yang ketika itu menjabat sebagai pimpinan tentara di Surakarta untuk menangkap Mayor Jendral Soedarsono. Hingga kemudian pada tanggal 3 juli 1946 Mayor Jendral Soedarsono akhirnya berhasil di tangkap oleh pasukan pengawal presiden. Peristiwa tersebut kemudian dikenal sebagai sebuah kudeta pertama atas Republik Indonesia yang mengalami kegagalan. 

    Kemudian pada tanggal 2 oktober 1946, Sutan Syahrir kembali menjadi Perdana Menteri yang kemudian melanjutkan perundingan Linggarjati yang terkenal 15 november 1946. Sutan Syahrir diketahui sangat mengakui Presiden Soekarno sebagai pemimpin besar dari Indonesia dan banyak yang mengatakan bahwa tanpa presiden Soekarno, Sutan Syahrir tidak ada apa-apanya. 

    Ahli Diplomasi Indonesia di Kancah Internasional
    Sutan Syahrir juga dikenal sebagai ketua BP KNIP (Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat), beliau juga merupakan perangcang dari perubahan kabinet presidensil menjadi kabinet parlementer di Indonesia. Sebagai perdana menteri Sutan Syahrir telah melakukan perombakan kabinet sebanyak tiga kali yaitu kabinet Syahrir I, Syahrir II dan Syahrir III. Beliau juga dikenal sebagai tokoh yang konsisten dalam memperjuangkan kedaulatan Indonesia di kancah Internasional melalui jalur diplomasi.
     "Penyelesaian nasib bangsa kita hanya akan ditentukan oleh orang-orang yang berhati besar,kuat dan jujur serta bercita-cita tinggi dan murni" - Sutan Syahrir
    Meskipun tidak lagi menjadi perdana menteri Indonesia pada tahun 1947, Sutan Syahrir tetap akhif memperjuangkan kedaulatan Indonesia di forum Internasional. Hal itu ia lakukan ketika ia ditunjuk sebagai perwakilan Indonesia di PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) bersama dengan Haji Agus Salim. Ketika Indonesia terus digempur oleh aksi agresi militer Belanda tahun 1947, Sutan Syahrir berpidato mengenai kedaulatan Indonesia dan perjuangan bangsa merebut kemerdekaan di tanah mereka sendiri. Argumen-argumen yang dikeluarkan oleh Sutan Syahrir tentang kedaulatan dan perjuangan Indonesia kemudian mematahkan argumen perwakilan Belanda yaitu Eelco van Kleffens. Diplomasi Republik Indonesia yang diwakili oleh Sutan Syahrir kemudian membuat PBB ikut campur dalam masalah Indonesia-Belanda yang kemudian mendesak Belanda untuk mengakui kedaulatan Indonesia.

    Biografi Sutan Syahrir - Pahlawan Nasional Indonesia
    Mendirikan Partai Sosialis Indonesia
    Sutan Syahrir kemudian dikenal sebagai diplomat muda yang ulung berkat pidatonya ketika ia mewakili Indonesia di sidang umum PBB. Bahkan beberapa wartawan kemudian menyebut Sutan Syahrir dengan julukan The Smiling Diplomat. Setelah tidak lagi menjabat sebagai Perdana Menteri, Sutan Syahrir kemudian menjadi penasihat Presiden Soekarno dan juga sebagai Duta Besar untuk Indonesia. Tahun 1948, Sutan Syahrir kemudian mendirikan Partai PSI (Partai Sosialis Indonesia) yang berhaluan kiri dan berdasar atas ajaran Marx-Engels yang menjunjung tinggi persamaan derajat manusia. Di tahun itu juga ia kemudian berpisah dengan Maria Duchateau.

    Sutan Syahrir Ditangkap dan Wafat
    Kemudian pada tahun 1951, Sutan Syahrir menikah dengan wanita bernama Siti Wahyunah yang kemudian memberinya dua orang anak bernama Kriya Arsyah Sjahrir dan Siti Rabyah Parvati Sjahrir. Sutan Syahrir juga dikenal sebagai tokoh yang gemar dengan musik klasik dan sering memainkan biola. Sutan Syahrir juga menyukai menerbangkan pesawat. Kemudian pada tahun 1955, setelah Partainya gagal dalam pemilihan umum, hubungannya dengan presiden Soekarno mulai renggang dan memburuk. Hingga kemudian pada 1960, Partai Sosialis Indonesia yang didirikan oleh Sutan Syahrir akhirnya dibubarkan. Kemudian pada tahun 1962 Sutan Syahrir kemudian ditangkap kemudian dipenjara tanpa pernah diadili hingga tahun 1965, ia kemudian menderita penyakit stroke.

    Akhirnya pemerintah ketika itu mengizinkan Sutan Syahrir untuk berobat di Zurich, Swiss. Hingga akhirnya pada tanggal 9 April 1966, Sutan Syahrir akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya, jenazahnya kemudian dimakamkan di taman makan pahlwan kalibata, Jakarta. Sebagai balas jasa ditanggal yang sama tepat ketika Sutan Syahrir meninggal dunia, pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional Indonesia kepada Sutan Syahrir atas jasa-jasanya sebagai salah satu pendiri Republik Indonesia melalui melalui Keppres nomor 76 tahun 1966.

    Biodata Sutan Syahrir - Pahlawan Nasional Indonesia.
     Nama : Sutan Syahrir
    • Tempat Tanggal Lahir : Padang Panjang, 5 Maret 1909
    • Wafat : 9 April 1966 di Swiss.
    • Orang Tua : Mohammad Rasad, Puti Siti Rabiah
    • Saudara : Rohana Kudus
    • Istri : Maria Duchateau, Siti Wahyunah
    • Anak : Kriya Arsyah Sjahrir, Siti Rabyah Parvati Sjahrir
    • Agama : Islam
     Jabatan :
    • Perdana Menteri pertama Republik Indonesia
    • Ketua Partai Sosialis Indonesia (PSI)
    • Ketua delegasi Republik Indonesia pada Perundingan Linggarjati
    • Duta Besar Keliling (Ambassador-at-Large) Republik Indonesia
     Karya Sutan Syahrir
    • Pikiran dan Perjuangan, tahun 1950 (kumpulan karangan dari Majalah ”Daulat Rakyat” dan majalah-majalah lain, tahun 1931 – 1940)
    • Pergerakan Sekerja, tahun 1933
    • Perjuangan Kita, tahun 1945
    • Indonesische Overpeinzingen, tahun 1946 (kumpulan surat-surat dan karangan-karangan dari penjara Cipinang dan tempat pembuangan di Digul dan Banda-Neira, dari tahun 1934 sampau 1938).
    • Renungan Indonesia, tahun 1951 (diterjemahkan dari Bahasa Belanda: Indonesische Overpeinzingen oleh HB Yassin)
    • Out of Exile, tahun 1949 (terjemahan dari ”Indonesische Overpeinzingen” oleh Charles Wolf Jr. dengan dibubuhi bagian ke-2 karangan Sutan Sjahrir)
    • Renungan dan Perjuangan, tahun 1990 (terjemahan HB Yassin dari Indonesische Overpeinzingen dan Bagian II Out of Exile)
    • Sosialisme dan Marxisme, tahun 1967 (kumpulan karangan dari majalah “Suara Sosialis” tahun 1952 – 1953)
    • Nasionalisme dan Internasionalisme, tahun 1953 (pidato yang diucapkan pada Asian Socialist Conference di Rangoon, tahun 1953)
    • Karangan–karangan dalam "Sikap", "Suara Sosialis" dan majalah–majalah lain
    • Sosialisme Indonesia Pembangunan, tahun 1983 (kumpulan tulisan Sutan Sjahrir diterbitkan oleh Leppenas).